MUTILASI DALAM HUBUNGAN CINTA: REPRESENTASI KEKERASAN BERBASIS GENDER DALAM KASUS TIARA ANGELINA
DOI:
https://doi.org/10.62207/hjpfeg55Keywords:
Kekerasan Berbasis Gender (KBG), Mutilasi, Toxic Relationship, DehumanisasiAbstract
Kasus mutilasi Tiara Angelina oleh pasangannya menjadi representasi ekstrem dari fenomena Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dalam relasi intim (Intimate Partner Violence). Tragedi ini bukan hanya insiden kriminal, tetapi manifestasi brutal dari ketidakseimbangan kuasa struktural dan dinamika toxic relationship. Studi ini bertujuan menganalisis bagaimana KBG, dehumanisasi, dan implikasi sosial struktural terefleksi dalam kasus tersebut. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif dengan desain Studi Kasus Tunggal Instrumental. Data dikumpulkan melalui Analisis Isi Media dan Dokumen (berita, laporan kronologi, dan analisis ahli). Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, dengan fokus pada pengaitan temuan empiris dengan teori KBG, kekuasaan, dan dehumanisasi. Temuan Utama dari studi ini adalah akar struktural KBG dimana kekerasan ini berakar pada rasa kepemilikan mutlak (sense of entitlement) pelaku yang beroperasi dalam relasi yang beracun (toxic relationship). Pembunuhan dipicu oleh kegagalan pelaku untuk mempertahankan kontrol dan dominasi, yang merupakan produk dari struktur patriarki. Mutilasi sebagai Puncak Dehumanisasi merupakan tindakan mutilasi jasad korban (menjadi ratusan bagian) melampaui motif penghilangan bukti, berfungsi sebagai aksi simbolik dan wujud fisik dari dehumanisasi total. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku telah kehilangan nilai moral dan kemanusiaan korban (Anomi), menjadikannya pernyataan kekuasaan absolut terhadap subjek perempuan. Dari implikasi sosial kasus ini mengungkap adanya kecenderungan menyalahkan korban (victim blaming) di ruang publik yang mengaburkan akar KBG. Secara struktural, kasus ini menunjukkan urgensi perlindungan hukum dan intervensi dini yang lebih serius terhadap Kekerasan dalam Pacaran (KDP) sebagai krisis publik. Mutilasi dalam kasus Tiara Angelina adalah cerminan kegagalan sistematis untuk melindungi perempuan dari KBG ekstrem. Hal ini menuntut intervensi kebijakan yang lebih serius, penegakan hukum yang berperspektif gender, dan peningkatan literasi emosional untuk mencegah relasi cinta berubah menjadi arena kekerasan yang mematikan.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ika Wahidah (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/?ref=chooser-v1











